Misalkan Kita Si Bulu Mata Susu
Oleh: Dobby Fachrizal
Kawan itu tentu hanya bergurau saja. "Aku nak nengok susu bebulu..." Celoteh kedai kopi itu terjadi saat buku kumpulan puisi "Bulu Mata Susu" dari Ramon Damora masih berbentuk janin.
Kini buku itu telah lahir dengan sehat dan selamat, lebih kurang dua minggu yang lalu di Pekanbaru. Kulitnya merah marun dengan mata indah seputih susu (sapi) segar yang dihiasi tujuh biji anak-anak mata yang ajaib, dan lentik bulunya seakan mengedipkan isyarat, bukalah aku, bacalah puisi-puisi itu. Pandainye die merayu, si "Bulu Mata Susu".
Sayapun kene makan rayu buku itu. Meski harap-harap cemas sebab undang-undang pornograpi sudah disyahkan pula. Susu, bulu, bukankah kata yang sangat rentan bila dipadankan dengan beberapa kata tertentu? kata yang dapat mengesankan pornograpi, yang bisa bikin orang ngeres atau naik syahwat. Resiko melanggar undang-undang itu saya ambil untuk menulis catatan kecil ini, demi Puisi.
Salah satu daya pikat puisi adalah kejutan-kejutan kata yang “bersembunyi” pada bait -baitnya. Kalau dalam pengantarnya Sitok Srengenge menyebut pesona dan persona kata, saya mengistilahkan kejutan kata-kata. Daya kejut itulah kadang selalu membuat orang-orang ketagihan menikmati puisi. Tak sembarangan orang yang mampu melakukan itu, menulis puisi-puisi seperti itu. Orang-orang tertentu saja, orang yang dianugerahi bakat alam. Dan begitu pukimaknya, Ramon Damora memiliki bakat langka itu. Ia sungguh sangat lihai mengejutkan kita dengan segala "tahiminyak"nya. Mungkin bila ingin bermain-main mencari sebuah kredo dalam puisi-puisi seorang penyair, bolehlah pada kumpulan puisi ini kita melahirkan istilah baru: "kredo tahiminyak". Sepertinya pepatah buah apel yang jatuh tak jauh dari pohonnya, berlaku juga di sini, tuan puan bisa artikan sendiri, tabiat orangnya tak jauh dari tabiat puisi-puisinya.“Tahiminyak”.
Saya ambil empat penggalan bait di antara puisi-puisi di "Bulu Mata Susu" yang mengejutkan itu:
/ubun-ubunmu lembut manisan tebu/
/kesemutan aku dikepit kepangmu/
(sajak ketombe)
/aku curi lampu-lampu malam anakmu berak di rembulan/
/kuburu jejak kijang jantan anakmu mengencingi hutan/
(kepada kartini)
/dari mayat menit, bangkai air yang dipanaskannya kembali/
(jam baru)
/lolong kangen sepanjang anjing di dinding/
/:jelanglah pagi berperigi kupu-kupu gading/
(puan kaca)
Seringkali, bagi kita (pembaca awam yang terkutuk ini) ketika berhadap-hadapan dengan sebuah puisi selalu melontarkan pertanyaan menjemukan, itu-itu juga: Apa arti puisi ini? Apa sih maksudnya? Arti, maksud, tujuan, dan semuanya itu memang tak bisa dipisahkan dalam hidup yang kian pragmatis. Boleh-boleh saja kita bertanya tentang itu, bahkan ikhlas berpeluh hati demi memaknai sebuah puisi. Tapi celakanya, banyak di antara kita tidak ingin berpeluh-peluh, tidak ingin sedikit merenung, dikungkung budaya malas berpikir. Kita selalu ingin serba praktis, termakan
Puisi (yang baik) tidak untuk dinikmati secara instant seperti kita menikmati produk-produk budaya massal seperti musik pop atau dangdut.
Memang banyak puisi-puisi instant (dengan berbagai niat atau motivasinya) yang lahir dan lalu-lalang temberang di hadapan kita. Tapi seperti benda-benda instant lainnya, puisi seperti itu juga cepat dikunyah tapi cepat pula dikeluarkan dari perut bersama “kawan-kawannya” di pagi hari.
Dalam “Bulu Mata Susu” jangan harap kita akan menemukan puisi-puisi yang bisa dinikmati sekali lalu. Kita harus memposisikan diri sebagai seorang peminum anggur yang ulung agar mampu meresapi kenikmatan 48 buah puisi Ramon Damora. Menyesapnya harus dengan perlahan, dengan segenap perasaan niscaya kenikmatan itu akan terasa, tak bisa dengan tergesa. Jika lidah kita terbiasa dengan teh botol, atau minuman keras oplosan sebaiknya janganlah coba-coba nak begaye.
/bulu matamu/
/dahuli kematianku/
/sepasang bacardi membakar diri/
/peparumu, pepuraku/
/puntung kunang terangi/
/pokok cerutu/
(Sesat di Hunsestraat)
Penggalan barisan dalam sajak Sesat di Hunsestraat Itu tak serta merta bisa ditangkap maksudnya. Tak bisa sekali tenggak. Kita sebagai pembaca (yang baik) hanya bisa merasakan keindahannya. Kalau ingin lebih dalam, kita harus tekun membaca utuh sebuah puisi berulang-ulang lalu membedah frasa-frasa yang lahir dari perkawinan kata setiap bait-baitnya, menghubung-hubungkannya dan syukur-syukur bisa mengambil maknanya. Tidak mudah memang, tapi percayalah itu mengasyikan. Banyak orang yang ketagihan akan puisi disebabkan kegilaan seperti itu. Bila tidak juga telah yakin menemukan maksudnya, pun tak mengapa, toh kita hanya sebagai penikmat. Menikmati keasyikan yang disajikan penyair. Penikmat anggur bukanlah pembuat anggur. Nikmati saja bait demi bait, asalkan kita tahu cara menikmatinya dengan benar. Asalkan kita bukan seorang penikmat asal-asalan.
Hampir semua puisi-puisi pada buku ini mengambil jalan “lirik-isme”. Puisi yang hanya terasa benar nikmatnya ketika engkau duduk sendiri di kamar saat orang-orang lain telah lelap dalam buai mimpi, saat hanya ada suara jangkrik yang sibuk bercinta dan rembulan yang gila itu bertengger di jendela.
Ramon Damora menakik, meracik, membedah, memiuh, menyuntuki, mengangkangi, dan menyetubuhi barisan kata-kata dengan ketat, intens, mengawinkan ketidaklaziman, lalu menciptakan keindahannya yang permai . Kelebihan yang lain adalah kefasihannya menempatkan kosa-kata melayu pada drajat tertinggi dalam puisi-puisinya. Kata-kata melayu yang berada dalam “Bulu Mata Susu” tentulah sangat bergembira hati hadir di
Perhatian pada kehidupan puisi kita memang masih jauh dari harapan, memerihkan, puisi-puisi masih selalu tersisih di pojok-pojok sepi, hampir sekarat di tengah masyarakat yang kian dangkal memahami karya seni, masyarakat yang lebih suka menyembah gaya hidup dengan segala produk-produk pop-nya, (benda-benda yang cantik namun tolol itu), lebih suka mengunyah seni-seni “cepat saji”. Puisi masih menggigil kesepian di tengah masyarakat yang menyanjung konsumerisme. Kita ditelan mentah-mentah program bodoh televisi, diperbudak monster-monster iklan.
Kelahiran “Bulu Mata Susu” setidaknya dapat memberi setiup napas baru bagi nyawa puisi yang megap-megap itu.
Bila ingin menyamakan dengan sebuah album musik yang baru rilis, boleh kiranya saya memilih

0 comments:
Post a Comment