Friday, November 28, 2008



Kuala Lumpur, Suatu Hari...



Keluar dari sebuah rumah makan, saya membakar sebatang rokok dan menonton pemandangan lalu-lintas di jalan Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Saat itu sudah hampir pukul 7 malam waktu Malaysia, matahari magrib redup, sisa-sisa jingga masih membilur di beberapa kaca gedung pencakar langit yang terpacak di sekitar jalan itu. Sesekali kereta monorail meliuk-liuk, melintas pelan, hampir tanpa suara, memergoki saya.


Jam-jam sibuk, ketika orang-orang pulang dari bekerja. Di setiap ibukota sebuah negara, kemacetan adalah pemandangan biasa, tak terkecuali di Kuala Lumpur. Tapi ajaibnya, ini adalah kemacetan yang indah, kalau tak ingin menyebutnya pemandangan yang puitis. Barisan kereta (mobil) berjejer tertib dengan beberapa sepeda motor dan bas-bas persiaran (pariwisata), tak ada kesan ingin saling serobot, tak terlihat pekat hitam asap knalpot, apalagi deru mesin yang mengaum memekakkan, hanya terdengar desis mesin yang halus, bunyi klakson? Bukanlah suara yang kerap hinggap di telinga, alias sangat jarang terdengar. Tiba-tiba di sebuah tikungan hadir sebuah “mahluk tipis merah” mengejutkan saya: Ferrari! Di antara kelimun mobil buatan dalam negeri ProDua, Ferrari Scuderia 430 limited edition itu benar-benar menjadi bintang di magrib yang macet itu.


Di mana-mana memang terlihat padat dan macet, tapi mengurus kemacetan di jalan raya, kita (baca: Jakarta) sepertinya sangat jauh tertinggal. Tak sekalipun saya melihat Pak Polisi sibuk dengan peluit dan aba-aba tangannya mengurusi para pengguna jalan seperti yang sering kita lihat di sini. Mereka seperti telah sadar dengan sendirinya cara yang benar memakai jalan umum. Ah, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau.

Bendera Jalur Gemilang Malaysia terlihat layu pada sebuah tiang yang tegak iseng sendiri di depan sebuah gedung berwarna merah bata. Dengan sebuah kamera digital lusuh, saya masih berdiri di trotoar nyaman jalan itu, berharap dapat menangkap lagi monorail yang melintas.


Bukit Bintang adalah salah satu jalan utama di Kuala Lumpur yang sangat ramai. Di sini tumbuh gedung-gedung ber-arsitektur kontemporer, pusat-pusat belanja modern, juga segala jenis restoran cepat saji hingga kedai-kedai pijat refleksi. Departement Store terbesar di Malaysia, Sogo berlokasi di sini, selain itu terdapat tempat belanja modern lainnya seperti Kuala Lumpur Plaza, Imbi Plaza, Low Yat Plaza, Pavilion KL, Sungei Wang Plaza, dan beberapa lainnya lagi, semuanya tumplek plek di sekitar daerah ini.


Jika di Singapura ada Orchad Road, Ginza di Tokyo, atau New York dengan Fifth Avenue-nya, maka Kuala Lumpur “menjual” jalan Bukit Bintang. Jalan ini adalah bagian dari kawasan segitiga emas, sebuah kawasan bisnis yang tentunya berpunca dari dua Menara Kembar Petronas (Twin Towers). Siapa yang tak kenal dengan “Merek Dagang” Malaysia ini. Pelancong-pelancong (wisatawan) luar Asia Tenggara tentulah lebih mengenal Twin Towers dibandingkan Siti Nurhaliza misalnya. Twin Towers yang kerap kita dapatkan dalam bentuk gantungan kunci, t-shirt, poster, kalender, miniatur hiasan meja, asbak, bros, sticker dan segala jenis cinderamata itu. Malaysia menjual dirinya ke dunia lewat “godaan” dua pancang menara yang genit ini. Dari landmark dua menara kembar inilah tiga jalan utama saling berhubungan: Jalan Bukit Bintang, Jalan Imbi and Jalan Sultan Ismail.


Malam pelan-pelan membuka layarnya. Neon-neon box iklan mulai menyala di setiap sudut. Cahaya mengkusta.

Sepanjang jalan Bukit Bintang mulai menunjukkan dirinya yang asli: tempat tumpah ruahnya para manusia dari berbagai pojok dunia yang berbaur dengan masyarakat lokal sendiri. Kios-kios menjual suvenir, asesoris, makanan ringan, buah-buahan terlihat siap-siap memancing orang-orang untuk merogoh Ringgit dari dompet. Tak ketinggalan para penghibur jalanan yang mulai memasang aksinya masing-masing.


Saya menyaksikan sebuah grup “antah berantah” yang memainkan musik indah di sebuah belokan yang agak luas di pinggir jalan itu. Grup itu berjumlah 12 orang, 9 laki-laki dan 3 perempuan. Gimbal, gondrong, dan ceking ala Bob Marley. Lusuh tapi terasa keren. Mereka tak menyajikan reggae. Mereka memainkan musik yang didominasi alat-alat perkusi. Tifa dan alat musik tiup dari bambu berukuran kira-kira 1,5 meter. Instrumentalia belaka. Grup ini sepertinya dikomandoi seorang lelaki gondrong ubanan 40-an tahun bercelana jeans sobek-sobek yang asyik memainkan beberapa alat musik tiup “aneh”, menyelaraskan nada yang dihasilkan rekan-rekannya. Dan dia memakai kursi roda! Musik yang dihasilkan dari pukulan tifa dan bunyi-bunyian bambu itu terasa begitu enak di telinga. Harmoni yang mereka ciptakan seperti perpaduan irama melayu, dan musik Afrika. Puluhan orang membuat lingkaran menyaksikan aksi mereka, tiga perempuan permai berwajah timur tengah terlihat mengoyangkan kepala dan badan, berjoget. Malam makin ramai, makin seronok.

Trully Asia, begitulah aktris terkenal Michelle Yeoh mempromosikan negaranya pada pariwara yang beberapa waktu lalu sering lalu-lalang di televisi kita. Tak berlebihan rasanya bila mereka membuat slogan seperti itu: “Asia yang sebenarnya, yang sejati”.


Meski pelancong-pelancong ras-ras Asia hilir mudik dan mendominasi di jalan itu, pelancong-pelancong dari “barat” juga terlihat ramai di hampir setiap sudut, dari yang kakek-nenek hingga para backpacker belia. Dua perempuan bule saya lihat sedang asyik sendiri mengisap shisha di tengah hiruk-pikuk sebuah food court tak jauh dari gerombolan musisi jalanan tadi.


Di jalan ini juga merupakan surga bagi pecinta wisata kuliner. Siapa sih yang tak doyan makan? Makanan lokal dan internasional, Asia dan Eropa bercampur baur. Nasi lemak, roti canai, teh tarik bersanding padu dengan menu-menu “aneh” di Starbucks ataupun Mcdonald . Belum lagi deretan rumah makan Asia lainnya, China, Thailand, India, Arab bisa ditemui dengan mudahnya di sana. Semuanya tentulah menerbitkan air liur. Kalau jumlah Ringgit di dompet anda memungkinkan silahkan “berwisata lidah” semampu perut bisa menampungnya.


Kuala Lumpur. Dua Menara kembar yang mengacung anggun, seperti perempuan-perempuan melayu dengan baju kurung dan tudung kepala yang selalu menggetarkan itu. Lalu saya teringat seorang gadis negeri sendiri yang baru-baru ini dinikahi seorang pemuda kaya dari tanah Malaysia ini. Bunga Citra Lestari namanya, orang-orang sering menyebutnya BCL, seorang gadis yang menawan.


Saya membatin: Ah, Malaysia, gadis-gadis indah kami pun kau “culik” hingga tak bersisa, tolong jangan kau rampas juga Luna Maya.

Kuala Lumpur memang benar-benar comel, menggoda kita untuk tinggal berlama-lama di sana. Tapi saat saya menyusuri jalan Bukit Bintang pada malam pertengahan November itu, saya tak menemukannya. BCL tak mampir di K.L .**


(K.L, 19-22 November, 2008)

1 comments:

Anonymous said...

tak punya laptop tapi setidaknya pernah menghirup asap knalpot di KL.. :D

(samakah bau asap di sana dengan punya negeri kita, Polly? ) :D

-melao-