Monday, July 21, 2008





POEM(UNDER)COVER


Tentu kulit depan (cover) buku di atas hanyalah khayalan saya belaka. Kedua buku itu adalah kumpulan puisi dua penyair papan atas yang telah terbit dan akan segera terbit.Mereka adalah teman obrolan, atasan di pekerjaan, sekaligus guru saya dalam menulis puisi.Mereka adalah orang-orang hebat.

"Orgasmaya" sudah terbit beberapa waktu lalu, meski pada edisi perdana diterbitkan bukanlah dengan niat dan semangat komersil-isme. Tapi pernah ada rencana buku kumpulan puisi itu akan diterbitkan lagi khusus untuk dipasarkan alias diberi bandrol. Dipajang di toko-toko buku, setidaknya ikut memperkaya khazanah buku kumpulan puisi atau sastra yang masih bisa dihitung dengan jari terbit setiap tahunnya.Penyair hidup dari puisi-puisinya? di negeri ini masih sangat langka, tapi di negeri yang orang-orangnya sudah normal dan beradab,itu sudah lama terjadi.


Khusus "Batman Jalang", itu hanyalah karangan saya saja, tentu sang penyair sendiri telah memiliki judul terbaik bagi buku sulungnya itu. Dari setiap obrolan kedai kopi (baca:intelektual) kami, saya dan penyair itu selalu mengira-ngira apa judul bagus untuk bukunya. Salah satunya pernah terlintas akan diberi judul "Batman Check-in". Alasannya? dua kata itu adalah dua judul puisi yang termasuk dalam rencana buku sang penyair. Bukankah O Amuk Kapak atau Misalkan Kita di Sarajevo juga puisi yang dijadikan judul untuk buku kumpulan puisi. Selain itu, bagi saya "Batman Check-in" juga unik, bukan rahasia lagi Check-in di sini diartikan pergi melacur,melonte atau pun tidur dengan pasangan illegal. Bayangkanlah Batman sang pahlawan itu pergi mencari pelacur untuk melepas syahwatnya setelah penat semalaman memberantas kejahatan.
Tapi kabar terakhir si penyair mempunyai judul yang lain, itu urusan dia, bukan urusan saya.
Mungkin saya pikir juga akan cerewet urusannya kalau memakai "Batman" untuk sebuah produk, Batman adalah ciptaan Amerika Serikat,mbahnya kapitalisme,semua diukur dengan dagang, dengan uang.Orang-orang kapitalis ini sangat mudah tersinggung. Bisa-bisa dituntut pihak DC Comics atau siapalah yang memiliki kata ajaib itu.

Kulit depan buku di atas hanyalah khayalan. Seribu maaf kepada sang photographer dan designer (lupa siapa nama mereka, itu hanya file-file yang tersimpan di hard disk komputer saya) yang karya profesionalnya diambil tanpa permisi untuk dijadikan sebuah rancangan "cover buku".

dont to be seriously, please dehh...

Saturday, July 12, 2008

de & fi

selamat datang
masuk, masuklah ke sini
beku hijau hati
buatlah sarang
di cabang-cabang
tunggulah aku di sana
akan kubacakan segulung cerita
kisah 1001 entah apa
ludahi kalau jemu rasanya
dan kembalilah terbang, sayang...

juli 2008

Sunday, July 06, 2008

Lost In Nagoya

Terperangkap di sebuah bar hotel, di sebuah pojok Nagoya, mencoba mengais sisa-sisa malam bersama seorang teman. Melihat sekeliling tiba-tiba saya teringat film Lost in Translation yang dibintangi Bill Murray dan Scarlett Johansson itu. Dengan segelas bir yang agak dipaksakan disumbat ke dalam kerongkongan, saya mencoba menikmati suasana. Bar, pub, night club atau entah apalah namanya bukan "kuil" bagi saya, bisa dihitung dengan sebelah jari mengunjungi atau singgah ke tempat seperti ini, kampungan memang. Saya terperangkap dikarenakan sebuah kunjungan atas undangan Mr Kenneth pemilik bar yang berulang tahun ke 80. Saya hampir tak percaya dengan tongkrongan segar bugar seperti itu, usianya sudah mencapai 80 tahun, konon dia mantan "army" tapi entahlah, tak begitu pasti. Yang diundang pun sebenarnya kawan saya itu, bukan saya. Tapi tak masalah, Tuan Kenneth terlihat sangat friendly terlebih istrinya yang asli dari Solo itu, masih muda, hitam manis, dan selalu memberi senyum yang menawan, wajar bila old man itu tergila-gila kepadanya, sungguh pak tua bule yang sangat beruntung.

Sayup-sayup di lobi bawah, piano menyanyikan fly me to the moon - Frank Sinatra. Di antara puluhan tamu di bar itu hanya kami berdualah pribumi selain (kalau juga dianggap tamu) beberapa wanita yang mungkin istri, pacar, atau hanya pelacur "short time" yang membuat kelompok sendiri di pojok lain, sementara di setiap sudut bar berkumpul mereka-mereka itu, "orang-orang barat" dengan masing-masing menggenggam gelas yang pastinya bukan berisi air putih. Saya tak kenal pasti siapa mereka, mungkin para expatriat, mungkin hanya turis yang mampir di kota ini, semua paruh baya, di atas 35 tahun sepertinya. Sialnya semua laki-laki.

Saya berkenalan dengan seseorang, Larry namanya. Seorang businessman ressort asal Inggris yang juga sahabat lama sang tuan rumah. Dia berdomisili di Singapura, hanya sesekali saja ke sini, cukup sebulan sekali ceritanya, tapi saya tak begitu percaya. Larry cukup ramah, dengan bergelas minuman -entah apa namanya- dan sebatang cerutu besar, saya dan dia berbasa-basi, tentu masih dengan english saya yang masih payah. Dari sanalah saya tiba-tiba teringat Bill Murray dalam Lost in Translation, sepertinya mereka adalah orang-orang asing kesepian yang terperangkap di sebuah daerah asing pula. Jauh dari tanah kelahiran dengan budaya yang jauh berbeda pastinya.

Mungkin dari sana jugalah bar-bar seperti ini tumbuh subur sebagai "rumah" bagi orang-orang seperti Larry, para expatriat, dan turis-turis asing itu untuk bisa membunuh kangen pada kampung halaman, dan lucunya kita dengan atas nama "modern" latah mengikuti gaya hidup mereka. oh..c'mon, tuan serius, kemana aja sih lu!" setan tiba-tiba membentak. Saya menyumpal berteguk bir lagi dalam perut sambil mengisap marlboro dalam-dalam.

Dalam Lost in Translation, Bob Harris (Bill Murray) berjumpa dengan Charlotte (Scarlett Johansson) di sebuah bar seperti ini, dan dari sanalah petualangan panas bermula. Ini memang bukan Tokyo yang gemerlap itu, tapi hanya Nagoya - yang kebetulan namanya juga diambil dari sebuah nama distrik di Jepang sana -, ya ini hanya Nagoya, kawasan kecil tempat geliat dunia malam di Kota Batam.

Sayang, malam itu tak ada Scarlett Johansson yang sekali lirik mampu melelehkan setiap lelaki, yang ada hanya sekumpulan "ayam-ayam" mencari makan di larut malam dengan selera fashion yang sungguh menyedihkan.

Memalingkan diri ke jendela saya teringat baris kata-kata seorang teman penyair:... nagoya dan lebat lampu malam memerangkap kita...

Saturday, July 05, 2008

P.S. I love You

hari-hari ini,
kamulah hujan pagi yang berurai pada sebuah adegan lambat film hitam putih
meleleh di sela rengek lagu juga kuntum wangi suam kopi
berdebar kutunggu runtuhan bungkammu
sambil sesekali menyesap sisa manis merah jambu
rintik-rintik jerawat di pipi kirimu

juli 2008