Wednesday, September 17, 2008

The Sampah

Bau busuk kampanye mulai menyebar dimana-mana. Sepanjang jalan mulai di penuhi poster,baliho, spanduk, bendera dan segala perangkat pemilu yang bisa dipajang di tepi jalan. Memangnya itu jalan nenek moyang mereka? Membosankan, bikin semrawut itu pasti. Yang lebih pasti adalah senyum-senyum penuh kepalsuan itu. Sakit jiwa. Ada yang nyengir anjing (anjing bisa nyengir? menyeringai maksudnya), ada yang seperti meringis sakit gigi, ada yang tertawa terpaksa atau sok cool dengan tatapan sayu ala Pierce Brosnan dalam topeng James Bond.

Yang duitnya segunung pastilah digarap biro iklan ternama, yang "ber-budget terbatas" cukuplah modal potographer studio amatir yang dicetak (terbatas) dipercetakan musiman.Penyot-penyot dikit tak mengapa.

Sang "Godfather" bisa muncul dimana-mana. Suka-suka mereka. Di televisi kita dibombardir hal-hal yang sejenis. Tentu ini perlu modal selangit. Bukan seperti caleg kampung (berkopiah dan batik). Apalagi centeng pasar yang bermodal pas-pasan. Dan jangan bilang yang mondar- mandir si TV itu mau jadi caleg. Ngga main lah yau kalau cuman duduk rame-rame di gedung wakil rakyat. Buat apa? ngabisin energi,nambah dosa, mana sering diteriaki demonstran anjing, babi lagi.

Ini adalah hari-hari mencari simpati, tebar pesona kanan kiri, janji ini itu. Kosong. Masing-masing ingin menjadi sang mesias, ratu adil.

Sutrisno Bachir menghabiskan puluhan miliar guna meng-campaign-kan dirinya. Membangun citra itu wajib.Terlihat tolol? siapa peduli, lalu "Hidup adalah perbuatan", Alamak! begitu palsunya.Terlalu... kata the king of dangdut Rhoma Irama.

Yang lain tak mau kalah. Prabowo,Wiranto,Megawati,Sutiyoso dan entah siapa lagi membawa kegombalan masing-masing. Kegombalan penjual obat di pasar.Teori iklan kecap. Dagangan politik itu. Sebagian kita akan terkagum-kagum (tertipu) lalu berniat dalam hati akan memilih salah satu di antara mereka.Memuja-muja layaknya mereka Dewa. Sebagian kita mungkin hanya menyumpahi, meludahi wajah-wajah mereka.Pastilah dari ludah paling dalam.

Politik berniat melahirkan "Demokrasi". Trias Politica? itu cuma terjadi pada zaman Yunani kuno sebelum masehi! Demi kebaikan bersama? cuma dalam imajinasi Aristoteles. Saat ini? di masa "modern" ini, apakah itu masih menjadi tujuan?

Politik licik? itu ejekan basi. Politik adalah panggung sandiwara? itu gurauan lama. Politik buat menimbun/menambah kekayaan pribadi bergunung-gunung? Itulah fakta yang terjadi di Indonesia.

Tuesday, September 09, 2008

1993

Masih teringat Juno berdebat dengan Mark Loring tentang musik Rock. Saat itu Juno terkejut campur takjub melihat koleksi gitar Mark, sebuah Gibson Les Paul. Sambil Juno mengagumi sang Les Paul, Mark bercerita kalau dia pernah mematahkan gitar keren tersebut di panggung ketika dia masih nge-band, di masa lalu. "1993, masa terbaik untuk rock n roll..." cerita Mark, tentu Juno dengan gaya percaya dirinya membantah pendapat itu.

Baiklah, saya potong sampai di angka 1993. Saya jadi teringat masa lalu.
Dalam hal ini saya sependapat dengan Mark. 1993 adalah puncak saat dunia Rock diserbu band-band yang membawa mazhab baru, orang-orang menyebutnya "grunge", alternatif rock, new punk rock, dan entah apa lagi. Apa pun namanya, pada masa itu memang penikmat rock n roll mengalami euforia, ekstase, orgasme.
Nirvana, Pearl Jam, Red Hot Chili Peppers adalah tiga band yang paling bertanggung jawab terhadap jutaan manusia penggemar rock saat itu. Kalau Kurt Cobain dianggap nabi (walau dia tak mampu menanggung beban berat itu hingga bunuh diri), Eddie Vedder sebutlah seorang malaikat mungkin orang-orang akan manggut-manggut saja, Anthony Kiedis dan Flea katakanlah dua orang suci kembar, bisa jadi orang-orang akan setuju juga.
Di bawah tiga besar itu ada nama-nama lain seperti Soundgarden, Alice in Chains,Green Day, The Offspring dsb. Di tanah Inggris Raya muncul Oasis, The Cranberries, Blur, Radio Head dkk.

1993 adalah masa-masa para gerombolan band-band itu menguasai pasar, memenuhi track-track di radio, mendominasi tangga-tangga lagu, dan tentu memborbardir penonton lewat MTV.

Ketika para penikmat musik mulai hampir mati jenuh dengan band-band "heavy metal" yang mulai jatuh dalam lembah kecengengan, orang-orang terasa tercerahkan dengan kehadiran band-band baru itu. Pengamat menyebutnya, suara yang mewakili X-Generation.
Mereka rata-rata menyuguguhkan sebuah formula segar, sebuah ramuan mujarab baru dalam meracik rock. Meski tidak sama persis, tapi ada benang merah kesamaan yang membuat mereka berbeda dengan senior-senior mereka sebelumnya. Baik secara musikalitas maupun isi lirik.

Tapi inilah bukti industri pop memang adalah sejenis monster paling sadis.
1993, dan setahun setelahnya, di bulan April yang jahanam Kurt Cobain menembakkan kepalanya sendiri. Dan masa bulan madu itu pun selesai...

DF

Saturday, September 06, 2008


JUNO

"Aku hamil." Begitulah kata Juno di depan kedua orang tuanya, polos, sedikit gugup. Juno, gadis 16 tahun yang masih baru masuk SMA, mendapati dirinya positif hamil setelah sekali berhubungan sex dengan pacarnya Paulie Bleeker. Juno gadis mungil, manis, ceria, pintar, tomboy dan tentu tipikal ABG yang selalu ingin menunjukkan diri pada dunia : ini nih, gue!.

Seusia itu tentulah Juno (Ellen Page) belum siap untuk menjadi seorang ibu, apalagi menjadi istri si Paulie Bleeker (Michael Cera), pacar satu sekolahan yang kikuk, culun dan malu-malu (meski Paulie memang terlihat tulus mencintai Juno).
Terniat olehnya untuk melakukan aborsi, tapi urung setelah tahu kalau janin di dalam perut juga memiliki kuku (?) Bersama sahabat karibnya Leah, mereka mengatur rencana untuk mencari orang tua adopsi untuk anak yang beberapa bulan lagi akan nongol itu. Di mana Paulie, ayah sang janin? Paulie hanya mampu melongo setelah di pagi hari sebelum jadwal joging, Juno mengabari kalau dirinya bunting. 

"coba terka?"
(bengong) apa?..aku tak tahu.."
"aku hamil"

Hubungan cinta Juno dan Paulie Bleeker sangat unik dan menarik, mereka satu sekolah dan bertetangga. Gaya pacaran mereka bukan seperti ABG kebanyakan yang begitu menggebu-gebu dan norak, Paulie yang baik, patuh pada orang tua, sopan bertemu dengan Juno yang ceplas ceplos, urakan. Pada satu sisi mereka seakan terlalu dewasa belum saatnya.

"Kecelakaan" yang menimpa mereka juga bukan semata-mata karena syahwat tak terkendali, khilaf atau setan belaka. Tapi karena "kesadaran" dan disebabkan sebuah "kursi" untuk mencoba berhubungan badan (bukankah seusia itu hormon testosteron dan estrogen mulai menampakkan diri?), begitu dewasanya.

Juno akhirnya menemukan orang tua adopsi, pasangan muda mapan Vanessa Loring (Jennifer Garner) dan Mark Loring (Jason Bateman) yang sangat merindukan kehadiran seorang bayi (tak diceritakan mengapa mereka menjadi mandul). Pastinya mereka adalah orang yang tepat bagi Juno untuk menjadi orang tua sebenarnya bagi bayi yang berada dalam perutnya.

Salah satu bagian yang menarik dalam film ini adalah hubungan antara Juno dengan pasangan Vanessa dan Mark. Pasangan suami istri yang telah "dewasa" harus berhadapan dengan Juno yang masih bau kencur. Ketegangan terjadi saat Mark ternyata belum benar-benar siap untuk menjadi "ayah". Juno kecewa, hancur namun akhirnya tersadarkan kalau "hubungan orang dewasa" memang penuh tanggung jawab, seperti hubungan pasangan sempurna itu, seperti hubungan antara ayah dan ibu tirinya. Berbeda dengan cinta monyet antara dia dan Paulie.

Dari seorang sutradara muda Jason Reitman (31) film ini sangat enak dinikmati sambil santai, sebuah film yang tidak terlalu "serius" tapi ada "sesuatu yang penting" yang dapat diambil oleh penonton. Terlebih Ellen Page bermain sangat bagus di sini dan tentunya gadis manis itu enak dilihat.

Juno memenangkan Best Writing, Screenplay (skenario) pada Oscar 2008 untuk Diablo Cody,seorang penulis perempuan muda berbakat dan cemerlang. Wajarlah ia diganjar penghargaan bergengsi itu. Salah satunya di film ini kita disuguhi dialog-dialog segar dan penuh kejutan di sana-sini. Tema yang sederhana dan biasa, tapi terasa "baru" dengan "tragedi" hamil muda di luar nikah yang tak ditampilkan dengan dramatisasi berlebihan dan kadang-kadang di luar logika seperti film-film (india dan sinetron indonesia) kebanyakan.

Paulie Bleeker: aku masih menyimpan celana dalam mu. 
Juno MacGuff: aku masih menyimpan keperjakaan mu.


DF -september 08