The Sampah
Bau busuk kampanye mulai menyebar dimana-mana. Sepanjang jalan mulai di penuhi poster,baliho, spanduk, bendera dan segala perangkat pemilu yang bisa dipajang di tepi jalan. Memangnya itu jalan nenek moyang mereka? Membosankan, bikin semrawut itu pasti. Yang lebih pasti adalah senyum-senyum penuh kepalsuan itu. Sakit jiwa. Ada yang nyengir anjing (anjing bisa nyengir? menyeringai maksudnya), ada yang seperti meringis sakit gigi, ada yang tertawa terpaksa atau sok cool dengan tatapan sayu ala Pierce Brosnan dalam topeng James Bond.
Yang duitnya segunung pastilah digarap biro iklan ternama, yang "ber-budget terbatas" cukuplah modal potographer studio amatir yang dicetak (terbatas) dipercetakan musiman.Penyot-penyot dikit tak mengapa.
Sang "Godfather" bisa muncul dimana-mana. Suka-suka mereka. Di televisi kita dibombardir hal-hal yang sejenis. Tentu ini perlu modal selangit. Bukan seperti caleg kampung (berkopiah dan batik). Apalagi centeng pasar yang bermodal pas-pasan. Dan jangan bilang yang mondar- mandir si TV itu mau jadi caleg. Ngga main lah yau kalau cuman duduk rame-rame di gedung wakil rakyat. Buat apa? ngabisin energi,nambah dosa, mana sering diteriaki demonstran anjing, babi lagi.
Ini adalah hari-hari mencari simpati, tebar pesona kanan kiri, janji ini itu. Kosong. Masing-masing ingin menjadi sang mesias, ratu adil.
Sutrisno Bachir menghabiskan puluhan miliar guna meng-campaign-kan dirinya. Membangun citra itu wajib.Terlihat tolol? siapa peduli, lalu "Hidup adalah perbuatan", Alamak! begitu palsunya.Terlalu... kata the king of dangdut Rhoma Irama.
Yang lain tak mau kalah. Prabowo,Wiranto,Megawati,Sutiyoso dan entah siapa lagi membawa kegombalan masing-masing. Kegombalan penjual obat di pasar.Teori iklan kecap. Dagangan politik itu. Sebagian kita akan terkagum-kagum (tertipu) lalu berniat dalam hati akan memilih salah satu di antara mereka.Memuja-muja layaknya mereka Dewa. Sebagian kita mungkin hanya menyumpahi, meludahi wajah-wajah mereka.Pastilah dari ludah paling dalam.
Politik berniat melahirkan "Demokrasi". Trias Politica? itu cuma terjadi pada zaman Yunani kuno sebelum masehi! Demi kebaikan bersama? cuma dalam imajinasi Aristoteles. Saat ini? di masa "modern" ini, apakah itu masih menjadi tujuan?
Politik licik? itu ejekan basi. Politik adalah panggung sandiwara? itu gurauan lama. Politik buat menimbun/menambah kekayaan pribadi bergunung-gunung? Itulah fakta yang terjadi di Indonesia.
Wednesday, September 17, 2008
Posted by dob at 1:00 AM 2 comments Links to this post
Tuesday, September 09, 2008
1993
Masih teringat Juno berdebat dengan Mark Loring tentang musik Rock. Saat itu Juno terkejut campur takjub melihat koleksi gitar Mark, sebuah Gibson Les Paul. Sambil Juno mengagumi sang Les Paul, Mark bercerita kalau dia pernah mematahkan gitar keren tersebut di panggung ketika dia masih nge-band, di masa lalu. "1993, masa terbaik untuk rock n roll..." cerita Mark, tentu Juno dengan gaya percaya dirinya membantah pendapat itu.
Baiklah, saya potong sampai di angka 1993. Saya jadi teringat masa lalu.
Dalam hal ini saya sependapat dengan Mark. 1993 adalah puncak saat dunia Rock diserbu band-band yang membawa mazhab baru, orang-orang menyebutnya "grunge", alternatif rock, new punk rock, dan entah apa lagi. Apa pun namanya, pada masa itu memang penikmat rock n roll mengalami euforia, ekstase, orgasme.
Nirvana, Pearl Jam, Red Hot Chili Peppers adalah tiga band yang paling bertanggung jawab terhadap jutaan manusia penggemar rock saat itu. Kalau Kurt Cobain dianggap nabi (walau dia tak mampu menanggung beban berat itu hingga bunuh diri), Eddie Vedder sebutlah seorang malaikat mungkin orang-orang akan manggut-manggut saja, Anthony Kiedis dan Flea katakanlah dua orang suci kembar, bisa jadi orang-orang akan setuju juga.
Di bawah tiga besar itu ada nama-nama lain seperti Soundgarden, Alice in Chains,Green Day, The Offspring dsb. Di tanah Inggris Raya muncul Oasis, The Cranberries, Blur, Radio Head dkk.
1993 adalah masa-masa para gerombolan band-band itu menguasai pasar, memenuhi track-track di radio, mendominasi tangga-tangga lagu, dan tentu memborbardir penonton lewat MTV.
Ketika para penikmat musik mulai hampir mati jenuh dengan band-band "heavy metal" yang mulai jatuh dalam lembah kecengengan, orang-orang terasa tercerahkan dengan kehadiran band-band baru itu. Pengamat menyebutnya, suara yang mewakili X-Generation.
Mereka rata-rata menyuguguhkan sebuah formula segar, sebuah ramuan mujarab baru dalam meracik rock. Meski tidak sama persis, tapi ada benang merah kesamaan yang membuat mereka berbeda dengan senior-senior mereka sebelumnya. Baik secara musikalitas maupun isi lirik.
Tapi inilah bukti industri pop memang adalah sejenis monster paling sadis.
1993, dan setahun setelahnya, di bulan April yang jahanam Kurt Cobain menembakkan kepalanya sendiri. Dan masa bulan madu itu pun selesai...
DF
Posted by dob at 11:15 AM 1 comments Links to this post
Saturday, September 06, 2008
Posted by dob at 9:02 AM 1 comments Links to this post
