Thursday, January 29, 2009

Cipaganti
Kepada - SRW

antara
kusam tembok khaki
dan merah pinus cipaganti
pernah kuamsal wajahmu berkali
dengan getar staedtler biru pasi

dan dulu, dan kini
hantu-hantu mimpi
taman sari
serupa bayang
batang kaki

ada yang selalu menetas
saat berkarung-karung hujan datang
ke simpang pincang
sebelum cihampelas

mungkin dosa
mungkin tiris ganesha
mungkin tubuhmu yang suasa
menyisip di saku dan robek celana

kamu tak akan pernah tahu
jika perdu-perdu lehermu
adalah kelekatu lampu-lampu
yang pernah kuhidu
di bangku coklat tua
sebuah plaza parijs van java

lalu
pintu setebal bebal
waktu sengilu pisau jagal
aku terlempar ke planet-planet komikal

dan di detik rawan ini
di sebuah minggu pagi yang lamban
12 tahun kemudian
tak terduga
kamu kutemukan juga di balik kaca
urban-sosialita
bibir polos dingin kurva
jaket kulit hitam buta

ya, syakila
kamu membunuh garis
di lingkar instalasi matahari

dan aku mengunyah sajak sepi
di renyai dedaunan mati


2009

Saturday, January 24, 2009

Sajak Anak Lebah
Kepada - Shannon Hoon (1967-1995)



aku anak lebah
dari sekumpulan yang payah
izinkan singgah

rumahku pengap, dimakan rayap
di panggung kayu ini aku hinggap

dari kulitku yang paling cantik
kuning hitam terpercik
mirip sekuntum putri
putri bayi matahari

kusuguhkan getar sayap, tarian senyap

tapi mengapa
tawa celaka tuan nyonya
sungguh menyakitkan
begitu memedihkan
begini rupa?

sedih, gugur juga gula-gula air mata

lalu terbang lagi
sayap-sayap layu ini
tapi kota hanya ditebalkan daki
tapi kota dihuni orang-orang mati

bosan, tengik aspal hampir mencekik leher ini

aku anak lebah
dari sekumpulan yang payah
izinkan singgah

menarikan madu mawar jelita
mencium tangkai angin bening jingga
berkejaran dengan kupu-kupu jantan
di hijau hangat taman
di rerimbun tawa kalian

sebelum aku terbang pulang, pulang ke awan-awan


januari 2009

mi amor, puisi

bohongi saja keruh kertas tolol ini
hingga merajut sayap-sayap gibran di bahuku
sebelum kau patahkan sendiri
menjadi gerimis membunuh pagi

bohongi saja sepi tinta ini
hingga mengalir kolam-kolam isfahan di mataku
sebelum kau keringkan lagi
menjadi pasir membungkus rusuk ini

januari 2009

Tuesday, January 20, 2009

Rambut


rambutmu segulung benang malam

gugur di perih bantal, bantal yang kelu


kusut kisahmu, kisah burung hantu

memintal sesal, sesal hitam sembilu


inikah? inikah ikal legam luka

yang selalu bersembunyi

antara lumur semir merah

dan wangi pandan

di lunak rambutmu, perempuan?


bukankah jari-jariku

sepuluh jari manis yang jatuh cinta padamu

pernah begitu cemburu


meninju hujan-hujan kafir

yang kerap mampir

membasahi telanjang tidurmu

seraya diam-diam mengepalkan tangis

mematahkan onak pelipis

dan mencuri dua lengkung alis?


januari 2009

Sunday, January 18, 2009

Catatan hari ini: Angin, kesepian, dan Kamu

Angin kencang sekali di luar sana. Beberapa hari belakangan kecepatan angin memang terasa berubah. Sangat kencang, sangat terasa. Entah apa istilah yang tepat untuk fenomena cuaca seperti ini. Siklus tahunan mungkin. Apalagi di daerah pesisir seperti di sini, seolah –olah ada kipas angin raksasa yang sedang berputar, menerpa segalanya.
Menerjang pepohonan, tiang listrik, papan reklame hingga baliho dan spanduk calon legislator yang makin memenuhi pinggir jalan.

Badan terasa sedikit ngilu kalau kita tak memakai baju hangat atau jaket. Kondisi tubuh memang harus benar-benar diperhatikan dari biasanya. Seorang teman sudah menjadi korban akibat perubahan cuaca seperti ini. Meriang dan batuk-batuk.

Dari lantai tiga gedung ini, saya memandang jauh ke laut di depan sana. Laut yang biru muda, buih-buih ombak yang memecah, Kapal-kapal yang berlabuh, kapal yang berangkat ke Singapura dan Malaysia, kapal yang terlihat sempoyongan, terombang-ambing. Mungkin ada seorang nenek dengan cucunya yang cemas, seorang pengusaha yang sibuk dengan hanphone-nya, atau sepasang kekasih yang saling dekap di dalam kapal sana. Entahlah.

Matahari mulai redup dan memerah, sunset yang nelangsa.

Lalu televisi di meja itu, Al Jazeera. Gaza, cerita yang masih sama. Orang-orang yang menangis, histeris, mayat-mayat, anak-anak sekarat dibopong ke Rumah Sakit, luluh lantak peperangan itu. Kesedihan-kesedihan itu. Tak tahan, saya memindahkan saluran., Roger Federer dengan kaos nike biru sedang bermandi peluh di Australia Terbuka.

Seorang teman menawarkan kopi. Kami berdua beranjak. Menyesap kopi dan mengisap rokok di tangga belakang. Mencoba mencari bahan obrolan, tapi yang terjadi lebih banyak saling diam, hanya ada hembusan asap dan langkah sepatu seseorang di bawah sana.

Di kejahuan, riak cahaya lampu kota yang mulai berenang. Kerlap kerlip lampu yang kesepian. Angin yang kencang masih membuat beberapa pohon terlihat kewalahan.
Di parkiran seorang perempuan keluar dari sebuah mobil, membanting pintu, sambil mengetatkan jaket, setengah berlari menuju gedung ini, seperti terburu, seperti ingin melawan angin yang kian memburu. Ya, ternyata itu kamu.

Friday, January 09, 2009

lurve

lentik jari-jari malam memetik setangkai bulan
biar sempurna bingkai matamu kutelan

sebelum dendang mengalun hijau hujan
sebelum jebat jalang mencuri tudung puan

dikau itukah? menangkis debar-debar lampu
di bawah sepi dua tugu

memungut tawa, luka, dan serpih uzur
di antara silau dan dusta kuala lumpur

januari 2009