Wednesday, May 27, 2009

Di Kedai Salihara
: GM


sebatang cabang yang condong
terpekur ke arah langit kosong
seakan memberi kesaksian

tentang tawa yang ramai
berhimpitan
tercekat, merambat
di meja kedai

lalu kauguriskan senyum
melambai
"kapan mendarat?"
"pertunjukan sebentar lagi dimulai"

lekuk kulit kayu itu kuraba
mengupasnya dalam diam

"apakah serpih ini sebuah firman, tuan?"

"tidak,
ini putik puisi
yang gugur sore tadi
di bawah rimbun pohon bodhi"

kukhayalkan di sana
kaukerap berteduh
menyesap hujan
menakik terik
menanti waktu terkelupas habis
seperti pantai yang terkikis
di sebuah lukisan antik

sungguh aku hanya ingin memandangmu
mungkin menyentuhmu
lama sangat lama
mengekalkannya
pada sebuah bingkai
yang tergantung di galeri oval sana

tapi aku seperti es di kaca gelas teh itu
senantiasa mengembunkan kangen yang malu-malu

hingga jarum jam menjadi hujan
membasahi sepi kanopi
lalu menyiram kesedihan
yang membungkus kota ini

Mei 2009

Saturday, April 18, 2009

Bintang Luruh
Rainer Maria Rilke


Masihkah kau ingat tentang bintang-bintang luruh
yang seperti lesatan kuda-kuda melintasi surga,
berpacu dan tiba-tiba melompat menyeberangi batas asa kita---ingatkah kau?

Di sana bintang-bintang jatuh berjuta: setiap tengadah, kita kerap menjerit, bintang-bintang itu melesat bermain, suka-suka
hati kita begitu nyaman dan tenteram rasanya
menyaksikan kepingan-kepingan indah itu renyai berurai,
takjub juga, bagaimanapun
sudah kita tampungi gugurnya

:: terjemahan Dobby F





Di Mana Sisi Jalan Berakhir
Shel Silverstein

ada sebuah tempat saat sisi jalan ini bermula dan berakhir
dan di sana liuk lembut rerumputan memutih
dan di sana matahari merah menyala
dan di sana burung bulan istirah dari kembara
untuk rebah dalam sejuk udara

kita tinggalkan saja tempat ini
tempat kabut melayang pekat
dan jalan gelap meliuk juga meliliti
lalui perangkap jalanan ini
jalanan yang ditumbuhi bunga-bunga

kita seharusnya berjalan saja
dengan langkah yang telah ditakdirkan
perlahan
mengikuti putih tanda panah terukir
ke tempat di mana sisi jalan berakhir

ya, kita akan berjalan
dengan langkah yang telah ditakdirkan
perlahan
dan kita akan pergi mengikuti putih tanda panah
demi anak-anak
yang memberi isyarat

dan anak-anak,sungguh
mereka selalu tahu adanya
tempat di mana sisi jalan berakhir, akhirnya

:: terjemahan Dobby F

Friday, April 03, 2009

Origami
:N

bulan setengah berdebar
menyabit langit kosong
mungkin ingin bertukar kabar
tentang bintang dingin

yang telah kau lipat
menjadi origami
berbentuk hati
di dinihari

april 2009

Thursday, January 29, 2009

Cipaganti
Kepada - SRW

antara
kusam tembok khaki
dan merah pinus cipaganti
pernah kuamsal wajahmu berkali
dengan getar staedtler biru pasi

dan dulu, dan kini
hantu-hantu mimpi
taman sari
serupa bayang
batang kaki

ada yang selalu menetas
saat berkarung-karung hujan datang
ke simpang pincang
sebelum cihampelas

mungkin dosa
mungkin tiris ganesha
mungkin tubuhmu yang suasa
menyisip di saku dan robek celana

kamu tak akan pernah tahu
jika perdu-perdu lehermu
adalah kelekatu lampu-lampu
yang pernah kuhidu
di bangku coklat tua
sebuah plaza parijs van java

lalu
pintu setebal bebal
waktu sengilu pisau jagal
aku terlempar ke planet-planet komikal

dan di detik rawan ini
di sebuah minggu pagi yang lamban
12 tahun kemudian
tak terduga
kamu kutemukan juga di balik kaca
urban-sosialita
bibir polos dingin kurva
jaket kulit hitam buta

ya, syakila
kamu membunuh garis
di lingkar instalasi matahari

dan aku mengunyah sajak sepi
di renyai dedaunan mati


2009

Saturday, January 24, 2009

Sajak Anak Lebah
Kepada - Shannon Hoon (1967-1995)



aku anak lebah
dari sekumpulan yang payah
izinkan singgah

rumahku pengap, dimakan rayap
di panggung kayu ini aku hinggap

dari kulitku yang paling cantik
kuning hitam terpercik
mirip sekuntum putri
putri bayi matahari

kusuguhkan getar sayap, tarian senyap

tapi mengapa
tawa celaka tuan nyonya
sungguh menyakitkan
begitu memedihkan
begini rupa?

sedih, gugur juga gula-gula air mata

lalu terbang lagi
sayap-sayap layu ini
tapi kota hanya ditebalkan daki
tapi kota dihuni orang-orang mati

bosan, tengik aspal hampir mencekik leher ini

aku anak lebah
dari sekumpulan yang payah
izinkan singgah

menarikan madu mawar jelita
mencium tangkai angin bening jingga
berkejaran dengan kupu-kupu jantan
di hijau hangat taman
di rerimbun tawa kalian

sebelum aku terbang pulang, pulang ke awan-awan


januari 2009

mi amor, puisi

bohongi saja keruh kertas tolol ini
hingga merajut sayap-sayap gibran di bahuku
sebelum kau patahkan sendiri
menjadi gerimis membunuh pagi

bohongi saja sepi tinta ini
hingga mengalir kolam-kolam isfahan di mataku
sebelum kau keringkan lagi
menjadi pasir membungkus rusuk ini

januari 2009

Tuesday, January 20, 2009

Rambut


rambutmu segulung benang malam

gugur di perih bantal, bantal yang kelu


kusut kisahmu, kisah burung hantu

memintal sesal, sesal hitam sembilu


inikah? inikah ikal legam luka

yang selalu bersembunyi

antara lumur semir merah

dan wangi pandan

di lunak rambutmu, perempuan?


bukankah jari-jariku

sepuluh jari manis yang jatuh cinta padamu

pernah begitu cemburu


meninju hujan-hujan kafir

yang kerap mampir

membasahi telanjang tidurmu

seraya diam-diam mengepalkan tangis

mematahkan onak pelipis

dan mencuri dua lengkung alis?


januari 2009

Sunday, January 18, 2009

Catatan hari ini: Angin, kesepian, dan Kamu

Angin kencang sekali di luar sana. Beberapa hari belakangan kecepatan angin memang terasa berubah. Sangat kencang, sangat terasa. Entah apa istilah yang tepat untuk fenomena cuaca seperti ini. Siklus tahunan mungkin. Apalagi di daerah pesisir seperti di sini, seolah –olah ada kipas angin raksasa yang sedang berputar, menerpa segalanya.
Menerjang pepohonan, tiang listrik, papan reklame hingga baliho dan spanduk calon legislator yang makin memenuhi pinggir jalan.

Badan terasa sedikit ngilu kalau kita tak memakai baju hangat atau jaket. Kondisi tubuh memang harus benar-benar diperhatikan dari biasanya. Seorang teman sudah menjadi korban akibat perubahan cuaca seperti ini. Meriang dan batuk-batuk.

Dari lantai tiga gedung ini, saya memandang jauh ke laut di depan sana. Laut yang biru muda, buih-buih ombak yang memecah, Kapal-kapal yang berlabuh, kapal yang berangkat ke Singapura dan Malaysia, kapal yang terlihat sempoyongan, terombang-ambing. Mungkin ada seorang nenek dengan cucunya yang cemas, seorang pengusaha yang sibuk dengan hanphone-nya, atau sepasang kekasih yang saling dekap di dalam kapal sana. Entahlah.

Matahari mulai redup dan memerah, sunset yang nelangsa.

Lalu televisi di meja itu, Al Jazeera. Gaza, cerita yang masih sama. Orang-orang yang menangis, histeris, mayat-mayat, anak-anak sekarat dibopong ke Rumah Sakit, luluh lantak peperangan itu. Kesedihan-kesedihan itu. Tak tahan, saya memindahkan saluran., Roger Federer dengan kaos nike biru sedang bermandi peluh di Australia Terbuka.

Seorang teman menawarkan kopi. Kami berdua beranjak. Menyesap kopi dan mengisap rokok di tangga belakang. Mencoba mencari bahan obrolan, tapi yang terjadi lebih banyak saling diam, hanya ada hembusan asap dan langkah sepatu seseorang di bawah sana.

Di kejahuan, riak cahaya lampu kota yang mulai berenang. Kerlap kerlip lampu yang kesepian. Angin yang kencang masih membuat beberapa pohon terlihat kewalahan.
Di parkiran seorang perempuan keluar dari sebuah mobil, membanting pintu, sambil mengetatkan jaket, setengah berlari menuju gedung ini, seperti terburu, seperti ingin melawan angin yang kian memburu. Ya, ternyata itu kamu.

Friday, January 09, 2009

lurve

lentik jari-jari malam memetik setangkai bulan
biar sempurna bingkai matamu kutelan

sebelum dendang mengalun hijau hujan
sebelum jebat jalang mencuri tudung puan

dikau itukah? menangkis debar-debar lampu
di bawah sepi dua tugu

memungut tawa, luka, dan serpih uzur
di antara silau dan dusta kuala lumpur

januari 2009

Friday, November 28, 2008



Kuala Lumpur, Suatu Hari...



Keluar dari sebuah rumah makan, saya membakar sebatang rokok dan menonton pemandangan lalu-lintas di jalan Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Saat itu sudah hampir pukul 7 malam waktu Malaysia, matahari magrib redup, sisa-sisa jingga masih membilur di beberapa kaca gedung pencakar langit yang terpacak di sekitar jalan itu. Sesekali kereta monorail meliuk-liuk, melintas pelan, hampir tanpa suara, memergoki saya.


Jam-jam sibuk, ketika orang-orang pulang dari bekerja. Di setiap ibukota sebuah negara, kemacetan adalah pemandangan biasa, tak terkecuali di Kuala Lumpur. Tapi ajaibnya, ini adalah kemacetan yang indah, kalau tak ingin menyebutnya pemandangan yang puitis. Barisan kereta (mobil) berjejer tertib dengan beberapa sepeda motor dan bas-bas persiaran (pariwisata), tak ada kesan ingin saling serobot, tak terlihat pekat hitam asap knalpot, apalagi deru mesin yang mengaum memekakkan, hanya terdengar desis mesin yang halus, bunyi klakson? Bukanlah suara yang kerap hinggap di telinga, alias sangat jarang terdengar. Tiba-tiba di sebuah tikungan hadir sebuah “mahluk tipis merah” mengejutkan saya: Ferrari! Di antara kelimun mobil buatan dalam negeri ProDua, Ferrari Scuderia 430 limited edition itu benar-benar menjadi bintang di magrib yang macet itu.


Di mana-mana memang terlihat padat dan macet, tapi mengurus kemacetan di jalan raya, kita (baca: Jakarta) sepertinya sangat jauh tertinggal. Tak sekalipun saya melihat Pak Polisi sibuk dengan peluit dan aba-aba tangannya mengurusi para pengguna jalan seperti yang sering kita lihat di sini. Mereka seperti telah sadar dengan sendirinya cara yang benar memakai jalan umum. Ah, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau.

Bendera Jalur Gemilang Malaysia terlihat layu pada sebuah tiang yang tegak iseng sendiri di depan sebuah gedung berwarna merah bata. Dengan sebuah kamera digital lusuh, saya masih berdiri di trotoar nyaman jalan itu, berharap dapat menangkap lagi monorail yang melintas.


Bukit Bintang adalah salah satu jalan utama di Kuala Lumpur yang sangat ramai. Di sini tumbuh gedung-gedung ber-arsitektur kontemporer, pusat-pusat belanja modern, juga segala jenis restoran cepat saji hingga kedai-kedai pijat refleksi. Departement Store terbesar di Malaysia, Sogo berlokasi di sini, selain itu terdapat tempat belanja modern lainnya seperti Kuala Lumpur Plaza, Imbi Plaza, Low Yat Plaza, Pavilion KL, Sungei Wang Plaza, dan beberapa lainnya lagi, semuanya tumplek plek di sekitar daerah ini.


Jika di Singapura ada Orchad Road, Ginza di Tokyo, atau New York dengan Fifth Avenue-nya, maka Kuala Lumpur “menjual” jalan Bukit Bintang. Jalan ini adalah bagian dari kawasan segitiga emas, sebuah kawasan bisnis yang tentunya berpunca dari dua Menara Kembar Petronas (Twin Towers). Siapa yang tak kenal dengan “Merek Dagang” Malaysia ini. Pelancong-pelancong (wisatawan) luar Asia Tenggara tentulah lebih mengenal Twin Towers dibandingkan Siti Nurhaliza misalnya. Twin Towers yang kerap kita dapatkan dalam bentuk gantungan kunci, t-shirt, poster, kalender, miniatur hiasan meja, asbak, bros, sticker dan segala jenis cinderamata itu. Malaysia menjual dirinya ke dunia lewat “godaan” dua pancang menara yang genit ini. Dari landmark dua menara kembar inilah tiga jalan utama saling berhubungan: Jalan Bukit Bintang, Jalan Imbi and Jalan Sultan Ismail.


Malam pelan-pelan membuka layarnya. Neon-neon box iklan mulai menyala di setiap sudut. Cahaya mengkusta.

Sepanjang jalan Bukit Bintang mulai menunjukkan dirinya yang asli: tempat tumpah ruahnya para manusia dari berbagai pojok dunia yang berbaur dengan masyarakat lokal sendiri. Kios-kios menjual suvenir, asesoris, makanan ringan, buah-buahan terlihat siap-siap memancing orang-orang untuk merogoh Ringgit dari dompet. Tak ketinggalan para penghibur jalanan yang mulai memasang aksinya masing-masing.


Saya menyaksikan sebuah grup “antah berantah” yang memainkan musik indah di sebuah belokan yang agak luas di pinggir jalan itu. Grup itu berjumlah 12 orang, 9 laki-laki dan 3 perempuan. Gimbal, gondrong, dan ceking ala Bob Marley. Lusuh tapi terasa keren. Mereka tak menyajikan reggae. Mereka memainkan musik yang didominasi alat-alat perkusi. Tifa dan alat musik tiup dari bambu berukuran kira-kira 1,5 meter. Instrumentalia belaka. Grup ini sepertinya dikomandoi seorang lelaki gondrong ubanan 40-an tahun bercelana jeans sobek-sobek yang asyik memainkan beberapa alat musik tiup “aneh”, menyelaraskan nada yang dihasilkan rekan-rekannya. Dan dia memakai kursi roda! Musik yang dihasilkan dari pukulan tifa dan bunyi-bunyian bambu itu terasa begitu enak di telinga. Harmoni yang mereka ciptakan seperti perpaduan irama melayu, dan musik Afrika. Puluhan orang membuat lingkaran menyaksikan aksi mereka, tiga perempuan permai berwajah timur tengah terlihat mengoyangkan kepala dan badan, berjoget. Malam makin ramai, makin seronok.

Trully Asia, begitulah aktris terkenal Michelle Yeoh mempromosikan negaranya pada pariwara yang beberapa waktu lalu sering lalu-lalang di televisi kita. Tak berlebihan rasanya bila mereka membuat slogan seperti itu: “Asia yang sebenarnya, yang sejati”.


Meski pelancong-pelancong ras-ras Asia hilir mudik dan mendominasi di jalan itu, pelancong-pelancong dari “barat” juga terlihat ramai di hampir setiap sudut, dari yang kakek-nenek hingga para backpacker belia. Dua perempuan bule saya lihat sedang asyik sendiri mengisap shisha di tengah hiruk-pikuk sebuah food court tak jauh dari gerombolan musisi jalanan tadi.


Di jalan ini juga merupakan surga bagi pecinta wisata kuliner. Siapa sih yang tak doyan makan? Makanan lokal dan internasional, Asia dan Eropa bercampur baur. Nasi lemak, roti canai, teh tarik bersanding padu dengan menu-menu “aneh” di Starbucks ataupun Mcdonald . Belum lagi deretan rumah makan Asia lainnya, China, Thailand, India, Arab bisa ditemui dengan mudahnya di sana. Semuanya tentulah menerbitkan air liur. Kalau jumlah Ringgit di dompet anda memungkinkan silahkan “berwisata lidah” semampu perut bisa menampungnya.


Kuala Lumpur. Dua Menara kembar yang mengacung anggun, seperti perempuan-perempuan melayu dengan baju kurung dan tudung kepala yang selalu menggetarkan itu. Lalu saya teringat seorang gadis negeri sendiri yang baru-baru ini dinikahi seorang pemuda kaya dari tanah Malaysia ini. Bunga Citra Lestari namanya, orang-orang sering menyebutnya BCL, seorang gadis yang menawan.


Saya membatin: Ah, Malaysia, gadis-gadis indah kami pun kau “culik” hingga tak bersisa, tolong jangan kau rampas juga Luna Maya.

Kuala Lumpur memang benar-benar comel, menggoda kita untuk tinggal berlama-lama di sana. Tapi saat saya menyusuri jalan Bukit Bintang pada malam pertengahan November itu, saya tak menemukannya. BCL tak mampir di K.L .**


(K.L, 19-22 November, 2008)

Saturday, November 08, 2008


Misalkan Kita Si Bulu Mata Susu


Oleh: Dobby Fachrizal



Kawan itu tentu hanya bergurau saja. "Aku nak nengok susu bebulu..." Celoteh kedai kopi itu terjadi saat buku kumpulan puisi "Bulu Mata Susu" dari Ramon Damora masih berbentuk janin.

Kini buku itu telah lahir dengan sehat dan selamat, lebih kurang dua minggu yang lalu di Pekanbaru. Kulitnya merah marun dengan mata indah seputih susu (sapi) segar yang dihiasi tujuh biji anak-anak mata yang ajaib, dan lentik bulunya seakan mengedipkan isyarat, bukalah aku, bacalah puisi-puisi itu. Pandainye die merayu, si "Bulu Mata Susu".


Sayapun kene makan rayu buku itu. Meski harap-harap cemas sebab undang-undang pornograpi sudah disyahkan pula. Susu, bulu, bukankah kata yang sangat rentan bila dipadankan dengan beberapa kata tertentu? kata yang dapat mengesankan pornograpi, yang bisa bikin orang ngeres atau naik syahwat. Resiko melanggar undang-undang itu saya ambil untuk menulis catatan kecil ini, demi Puisi.


Ada 48 buah puisi dalam buku ini.Puisi yang didominasi tahun penulisan 2007-2008, hanya ada dua buah puisi yang ditulis pada tahun 2002 dan 2003. Selebihnya adalah puisi-puisi terkini dari sang penyair. Dan bagi yang lemah jantung janganlah membukanya barang sehalaman pun. Saya selalu hampir saja terloncat dari kursi setelah membaca beberapa puisi di sini. Berlebihan? silahkan bukti sendiri,tapi resiko gagal jantung saya lepas tangan.


Salah satu daya pikat puisi adalah kejutan-kejutan kata yang “bersembunyi” pada bait -baitnya. Kalau dalam pengantarnya Sitok Srengenge menyebut pesona dan persona kata, saya mengistilahkan kejutan kata-kata. Daya kejut itulah kadang selalu membuat orang-orang ketagihan menikmati puisi. Tak sembarangan orang yang mampu melakukan itu, menulis puisi-puisi seperti itu. Orang-orang tertentu saja, orang yang dianugerahi bakat alam. Dan begitu pukimaknya, Ramon Damora memiliki bakat langka itu. Ia sungguh sangat lihai mengejutkan kita dengan segala "tahiminyak"nya. Mungkin bila ingin bermain-main mencari sebuah kredo dalam puisi-puisi seorang penyair, bolehlah pada kumpulan puisi ini kita melahirkan istilah baru: "kredo tahiminyak". Sepertinya pepatah buah apel yang jatuh tak jauh dari pohonnya, berlaku juga di sini, tuan puan bisa artikan sendiri, tabiat orangnya tak jauh dari tabiat puisi-puisinya.“Tahiminyak”.


Saya ambil empat penggalan bait di antara puisi-puisi di "Bulu Mata Susu" yang mengejutkan itu:


/ubun-ubunmu lembut manisan tebu/

/kesemutan aku dikepit kepangmu/

(sajak ketombe)


/aku curi lampu-lampu malam anakmu berak di rembulan/

/kuburu jejak kijang jantan anakmu mengencingi hutan/

(kepada kartini)


/dari mayat menit, bangkai air yang dipanaskannya kembali/

(jam baru)


/lolong kangen sepanjang anjing di dinding/

/:jelanglah pagi berperigi kupu-kupu gading/

(puan kaca)


Seringkali, bagi kita (pembaca awam yang terkutuk ini) ketika berhadap-hadapan dengan sebuah puisi selalu melontarkan pertanyaan menjemukan, itu-itu juga: Apa arti puisi ini? Apa sih maksudnya? Arti, maksud, tujuan, dan semuanya itu memang tak bisa dipisahkan dalam hidup yang kian pragmatis. Boleh-boleh saja kita bertanya tentang itu, bahkan ikhlas berpeluh hati demi memaknai sebuah puisi. Tapi celakanya, banyak di antara kita tidak ingin berpeluh-peluh, tidak ingin sedikit merenung, dikungkung budaya malas berpikir. Kita selalu ingin serba praktis, termakan gaya hidup yang serba “instant”.


Puisi (yang baik) tidak untuk dinikmati secara instant seperti kita menikmati produk-produk budaya massal seperti musik pop atau dangdut.

Memang banyak puisi-puisi instant (dengan berbagai niat atau motivasinya) yang lahir dan lalu-lalang temberang di hadapan kita. Tapi seperti benda-benda instant lainnya, puisi seperti itu juga cepat dikunyah tapi cepat pula dikeluarkan dari perut bersama “kawan-kawannya” di pagi hari.


Dalam “Bulu Mata Susu” jangan harap kita akan menemukan puisi-puisi yang bisa dinikmati sekali lalu. Kita harus memposisikan diri sebagai seorang peminum anggur yang ulung agar mampu meresapi kenikmatan 48 buah puisi Ramon Damora. Menyesapnya harus dengan perlahan, dengan segenap perasaan niscaya kenikmatan itu akan terasa, tak bisa dengan tergesa. Jika lidah kita terbiasa dengan teh botol, atau minuman keras oplosan sebaiknya janganlah coba-coba nak begaye.


/bulu matamu/

/dahuli kematianku/

/sepasang bacardi membakar diri/

/peparumu, pepuraku/

/puntung kunang terangi/

/pokok cerutu/

(Sesat di Hunsestraat)


Penggalan barisan dalam sajak Sesat di Hunsestraat Itu tak serta merta bisa ditangkap maksudnya. Tak bisa sekali tenggak. Kita sebagai pembaca (yang baik) hanya bisa merasakan keindahannya. Kalau ingin lebih dalam, kita harus tekun membaca utuh sebuah puisi berulang-ulang lalu membedah frasa-frasa yang lahir dari perkawinan kata setiap bait-baitnya, menghubung-hubungkannya dan syukur-syukur bisa mengambil maknanya. Tidak mudah memang, tapi percayalah itu mengasyikan. Banyak orang yang ketagihan akan puisi disebabkan kegilaan seperti itu. Bila tidak juga telah yakin menemukan maksudnya, pun tak mengapa, toh kita hanya sebagai penikmat. Menikmati keasyikan yang disajikan penyair. Penikmat anggur bukanlah pembuat anggur. Nikmati saja bait demi bait, asalkan kita tahu cara menikmatinya dengan benar. Asalkan kita bukan seorang penikmat asal-asalan.


Hampir semua puisi-puisi pada buku ini mengambil jalan “lirik-isme”. Puisi yang hanya terasa benar nikmatnya ketika engkau duduk sendiri di kamar saat orang-orang lain telah lelap dalam buai mimpi, saat hanya ada suara jangkrik yang sibuk bercinta dan rembulan yang gila itu bertengger di jendela.


Ramon Damora menakik, meracik, membedah, memiuh, menyuntuki, mengangkangi, dan menyetubuhi barisan kata-kata dengan ketat, intens, mengawinkan ketidaklaziman, lalu menciptakan keindahannya yang permai . Kelebihan yang lain adalah kefasihannya menempatkan kosa-kata melayu pada drajat tertinggi dalam puisi-puisinya. Kata-kata melayu yang berada dalam “Bulu Mata Susu” tentulah sangat bergembira hati hadir di sana. Jerebu, kepunan, renjis, rehal, ceguk, lucah, tabik, surai adalah beberapa contoh di antaranya. Ketika masa-masa kini kita dibombardir oleh kata-kata asing , dan kata-kata gaul anak muda, di mana lagi kita sering menemukan kata-kata itu? Museum kata? Kehadiran kata-kata khazanah lama dalam puisi-puisinya sunguh menyegarkan lahir batin kita.


Perhatian pada kehidupan puisi kita memang masih jauh dari harapan, memerihkan, puisi-puisi masih selalu tersisih di pojok-pojok sepi, hampir sekarat di tengah masyarakat yang kian dangkal memahami karya seni, masyarakat yang lebih suka menyembah gaya hidup dengan segala produk-produk pop-nya, (benda-benda yang cantik namun tolol itu), lebih suka mengunyah seni-seni “cepat saji”. Puisi masih menggigil kesepian di tengah masyarakat yang menyanjung konsumerisme. Kita ditelan mentah-mentah program bodoh televisi, diperbudak monster-monster iklan.

Kelahiran “Bulu Mata Susu” setidaknya dapat memberi setiup napas baru bagi nyawa puisi yang megap-megap itu.


Bila ingin menyamakan dengan sebuah album musik yang baru rilis, boleh kiranya saya memilih lima puisi yang bisa menjadi “hits” pada “Bulu Mata Susu”. Niscaya “album” ini akan meledak laris manis di tengah serbuan band-band cengeng anak muda masa kini.

Lima “hits” sebagai pembuka jalan untuk “didengarkan” ke khalayak ramai itu adalah Puan Kaca, Sketsa, Check in (1), Nun, dan Mammography. layak disematkan 4 bintang kepada “Bulu Mata Susu”.


( Batam Pos, Minggu 9/11/08)

Wednesday, September 17, 2008

The Sampah

Bau busuk kampanye mulai menyebar dimana-mana. Sepanjang jalan mulai di penuhi poster,baliho, spanduk, bendera dan segala perangkat pemilu yang bisa dipajang di tepi jalan. Memangnya itu jalan nenek moyang mereka? Membosankan, bikin semrawut itu pasti. Yang lebih pasti adalah senyum-senyum penuh kepalsuan itu. Sakit jiwa. Ada yang nyengir anjing (anjing bisa nyengir? menyeringai maksudnya), ada yang seperti meringis sakit gigi, ada yang tertawa terpaksa atau sok cool dengan tatapan sayu ala Pierce Brosnan dalam topeng James Bond.

Yang duitnya segunung pastilah digarap biro iklan ternama, yang "ber-budget terbatas" cukuplah modal potographer studio amatir yang dicetak (terbatas) dipercetakan musiman.Penyot-penyot dikit tak mengapa.

Sang "Godfather" bisa muncul dimana-mana. Suka-suka mereka. Di televisi kita dibombardir hal-hal yang sejenis. Tentu ini perlu modal selangit. Bukan seperti caleg kampung (berkopiah dan batik). Apalagi centeng pasar yang bermodal pas-pasan. Dan jangan bilang yang mondar- mandir si TV itu mau jadi caleg. Ngga main lah yau kalau cuman duduk rame-rame di gedung wakil rakyat. Buat apa? ngabisin energi,nambah dosa, mana sering diteriaki demonstran anjing, babi lagi.

Ini adalah hari-hari mencari simpati, tebar pesona kanan kiri, janji ini itu. Kosong. Masing-masing ingin menjadi sang mesias, ratu adil.

Sutrisno Bachir menghabiskan puluhan miliar guna meng-campaign-kan dirinya. Membangun citra itu wajib.Terlihat tolol? siapa peduli, lalu "Hidup adalah perbuatan", Alamak! begitu palsunya.Terlalu... kata the king of dangdut Rhoma Irama.

Yang lain tak mau kalah. Prabowo,Wiranto,Megawati,Sutiyoso dan entah siapa lagi membawa kegombalan masing-masing. Kegombalan penjual obat di pasar.Teori iklan kecap. Dagangan politik itu. Sebagian kita akan terkagum-kagum (tertipu) lalu berniat dalam hati akan memilih salah satu di antara mereka.Memuja-muja layaknya mereka Dewa. Sebagian kita mungkin hanya menyumpahi, meludahi wajah-wajah mereka.Pastilah dari ludah paling dalam.

Politik berniat melahirkan "Demokrasi". Trias Politica? itu cuma terjadi pada zaman Yunani kuno sebelum masehi! Demi kebaikan bersama? cuma dalam imajinasi Aristoteles. Saat ini? di masa "modern" ini, apakah itu masih menjadi tujuan?

Politik licik? itu ejekan basi. Politik adalah panggung sandiwara? itu gurauan lama. Politik buat menimbun/menambah kekayaan pribadi bergunung-gunung? Itulah fakta yang terjadi di Indonesia.

Tuesday, September 09, 2008

1993

Masih teringat Juno berdebat dengan Mark Loring tentang musik Rock. Saat itu Juno terkejut campur takjub melihat koleksi gitar Mark, sebuah Gibson Les Paul. Sambil Juno mengagumi sang Les Paul, Mark bercerita kalau dia pernah mematahkan gitar keren tersebut di panggung ketika dia masih nge-band, di masa lalu. "1993, masa terbaik untuk rock n roll..." cerita Mark, tentu Juno dengan gaya percaya dirinya membantah pendapat itu.

Baiklah, saya potong sampai di angka 1993. Saya jadi teringat masa lalu.
Dalam hal ini saya sependapat dengan Mark. 1993 adalah puncak saat dunia Rock diserbu band-band yang membawa mazhab baru, orang-orang menyebutnya "grunge", alternatif rock, new punk rock, dan entah apa lagi. Apa pun namanya, pada masa itu memang penikmat rock n roll mengalami euforia, ekstase, orgasme.
Nirvana, Pearl Jam, Red Hot Chili Peppers adalah tiga band yang paling bertanggung jawab terhadap jutaan manusia penggemar rock saat itu. Kalau Kurt Cobain dianggap nabi (walau dia tak mampu menanggung beban berat itu hingga bunuh diri), Eddie Vedder sebutlah seorang malaikat mungkin orang-orang akan manggut-manggut saja, Anthony Kiedis dan Flea katakanlah dua orang suci kembar, bisa jadi orang-orang akan setuju juga.
Di bawah tiga besar itu ada nama-nama lain seperti Soundgarden, Alice in Chains,Green Day, The Offspring dsb. Di tanah Inggris Raya muncul Oasis, The Cranberries, Blur, Radio Head dkk.

1993 adalah masa-masa para gerombolan band-band itu menguasai pasar, memenuhi track-track di radio, mendominasi tangga-tangga lagu, dan tentu memborbardir penonton lewat MTV.

Ketika para penikmat musik mulai hampir mati jenuh dengan band-band "heavy metal" yang mulai jatuh dalam lembah kecengengan, orang-orang terasa tercerahkan dengan kehadiran band-band baru itu. Pengamat menyebutnya, suara yang mewakili X-Generation.
Mereka rata-rata menyuguguhkan sebuah formula segar, sebuah ramuan mujarab baru dalam meracik rock. Meski tidak sama persis, tapi ada benang merah kesamaan yang membuat mereka berbeda dengan senior-senior mereka sebelumnya. Baik secara musikalitas maupun isi lirik.

Tapi inilah bukti industri pop memang adalah sejenis monster paling sadis.
1993, dan setahun setelahnya, di bulan April yang jahanam Kurt Cobain menembakkan kepalanya sendiri. Dan masa bulan madu itu pun selesai...

DF