Wednesday, May 27, 2009

Di Kedai Salihara
: GM


sebatang cabang yang condong
terpekur ke arah langit kosong
seakan memberi kesaksian

tentang tawa yang ramai
berhimpitan
tercekat, merambat
di meja kedai

lalu kauguriskan senyum
melambai
"kapan mendarat?"
"pertunjukan sebentar lagi dimulai"

lekuk kulit kayu itu kuraba
mengupasnya dalam diam

"apakah serpih ini sebuah firman, tuan?"

"tidak,
ini putik puisi
yang gugur sore tadi
di bawah rimbun pohon bodhi"

kukhayalkan di sana
kaukerap berteduh
menyesap hujan
menakik terik
menanti waktu terkelupas habis
seperti pantai yang terkikis
di sebuah lukisan antik

sungguh aku hanya ingin memandangmu
mungkin menyentuhmu
lama sangat lama
mengekalkannya
pada sebuah bingkai
yang tergantung di galeri oval sana

tapi aku seperti es di kaca gelas teh itu
senantiasa mengembunkan kangen yang malu-malu

hingga jarum jam menjadi hujan
membasahi sepi kanopi
lalu menyiram kesedihan
yang membungkus kota ini

Mei 2009